Review Anggi

Halaman

  • Beranda
  • About Me
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sitemap
  • Terms and Conditions
  • Home


Kemarin saya ikut membalas stiker 'Add Yours' lagi di insta story, begini pertanyaannya : Spill lagu yang terngiang-ngiang di otak kalian. 

Saya lantas spontan membalas cuplikan lirik lagu Takut yang sedang hitz dinyanyikan oleh Idgitaf. Awal saya mendengar lagu itu biasa aja, tapi setelah jauh memaknai lirik lagu tersebut, Masya Allah air mata saya tiba-tiba menetes. Lagu tersebut menyimpan makna yang sangat dalam yaitu mengenai dimulainya perjalanan menuju kedewasaan di awal usia 20 tahunan. Banyak sekali orang yang merasa related dengan lagu ini. Ingatan saya kemudian berputar kembali saat saya baru menginjakkan kaki di bangku perkuliahan, 10 tahun silam. 

[Sudah di kepala dua
Harus mulai dari mana?
Ambisiku bergejolak
Antusias tak keruan
Banyak mimpi-mimpi yang 'kan kukejar]

Sama seperti mahasiswa lain, saya juga seorang perantauan namun bedanya saya tinggal bersama nenek saya (ibu dari ayah saya). Awalnya saya merasa bahagia karena dalam pikiran saya menyandang status mahasiswa yang ditunggu-tunggu. Ternyata, memang di awal usia itulah transisi dari remaja menuju dewasa. Jujur, banyak tekanan! 

Semakin lama saya semakin tak nyaman di lingkungan itu. Teman yang tak satu frekuensi. Ketika saya menjadi "marah" dengan keadaan, saya capek, lelah. Anak lain tinggal di kos, saya hanya tinggal berdua dengan nenek saya yang saya tidak suka. Namun teman saya tidak ada yang mengerti. Saya pernah sedikit emosi dan melempar barang di kos teman saya dan saya menangis. Apa reaksi teman saya? Jauh! Saya ingat sekali saya dijauhin beberapa teman saya, dan saya masih ingat salah satu teman saya bilang gini "jangan gitu, nanti gak ada yang mau berteman sama kamu" 🙃 

Hay teman, apakah kalian tidak tau perasaan tidak nyaman? Saya paham mungkin dulu memang belum ada ilmu mental health, eh bahkan sampai sekarang udah ada ilmu mental awareness masih banyak juga kan yang menjudge seseorang tidak waras 🙃

Sebenarnya saya saat itu juga tidak tau mimpi apa yang saya kejar. Saya kuliah di jurusan pendidikan nyatanya itu bukan tumbuh dari hati saya. Saya bukan tipe orang yang mengajar dan berbicara di depan banyak orang. Bahkan saya merasa tak memiliki bakat di situ. Sebenarnya saya agak kecewa karena jurusan ini adalah pilihan kedua saya. Pilihan pertama saya Sastra Indonesia. Iya, saya masuk di keguruan karena "saran" (atau suruhan?) orangtua saya. Kemudian saya ingat teman saya dari jurusan lain, "wis lah kadung nyebur ya sekalian basah" ("ya udahlah terlanjur nyebur ya sekalian basah"). Kalau dipikir saat itu iya juga haha.... 

Saya salut dengan beberapa teman sekelas saya di semester awal memilih keluar dari jurusan tersebut dan kuliah lagi di tempat yang mereka inginkan. Dalam arti mereka sudah mengenal diri mereka sendiri ya. Tentu saja saat itu saya banyak pikiran, lha kalau ujian masuk lagi nanti gimana umur saya, jadi tua dong 🤣 Terus gimana dengan orangtua saya yang sudah membiayai dari semester pertama. Saya juga merasa lelah untuk belajar materi untuk ujian lagi. Kejar-kejaran sama tugas kuliah oy! 

[Lika-liku perjalanan
Ku terjebak sendirian
Tumbuh dari kebaikan
Bangkit dari kesalahan]

Rasanya beneran terjebak sih. Antara mau nggak mau kuliah di jurusan ini. Saat itu saya sibuk menyalahkan keadaan karena jauh dari apa yang saya bayangkan. Saya mencoba berusaha untuk berdamai tapi ya sudahlah! 

Saya berteman juga dengan salah satu teman sekelas saya yang memang pintar anaknya dan ambisius, tapi saat itu saya hanya menjadi "bayangan" dia saja. Mengikuti kegiatan dia dan rasanya seperti dia memanfaatkan saya yang people pleaser 😭 Jujur saya pernah menangisi nasib saya kenapa saya jadi orang gini banget, kok ketemu sama teman jarang ada yang bener 😭 Walau akhirnya saya menemukan teman dan sahabat sebenarnya saat praktek mengajar di salah satu sekolah negeri, tapi perjalanan untuk menemukan mereka sungguh benar-benar diuji. 

[Pertengahan dua lima
Selanjutnya bagaimana?
Banyak mimpi yang terkubur
Mengorbankan waktu tidur
Ku tak tahu apalagi yang 'kan kukejar]

Usia ini saya sudah lulus kuliah, rasanya senang dan bahagia sekali melewati perjalanan kelam selama 4,5 tahun 🤣 Saya mencoba membuka usaha saat itu dengan menjadi reseller kosmetik dari sebuah toko. Sebenarnya saya sudah melirik dunia ini saat itu saya pernah menjadi salah seorang member bisnis kecantikan MLM, tapi saya tidak meneruskan karena saya susah mendapat member baru. 

Kemudian ibu saya meminta saya pulang ke kota kelahiran saya agar mengajar di bimbel dekat rumah. Oke saya pulang dan alhamdulillah saya diterima bimbel tersebut. Singkat cerita saya dilamar dan menikah di usia 25 tahun. Usia yang bagi saya tidak terlalu dini walau sebagian orang mengatakan usia ini masih usia muda untuk menikah. 

Allhamdulillah saya masih diizinkan suami untuk bekerja setelah menikah. Saya mencoba melamar di sekolah saya sendiri tapi ditolak, akhirnya mereka memanggil saya lagi untuk menggantikan guru yang sedang berhaji. 

Tak putus asa, saya masih ingin menjadi guru untuk mengejar impian walau bukan impian saya 😭 Saya mencoba melamar di sekolah saya lagi setelah anak saya lahir tapi saya hanya mendapat cemoohan "emang lama di rumah ngapain aja". Itu diucapkan oleh salah satu guru saya dulu. Sakit hati saya. Saya memang tidak mencari pengalaman lain selain saat praktek KKN, bimbingan belajar dan guru pengganti. Namun mengapa saya tidak diberi kesempatan lagi di sana? Sudahlah saya hanya memendam rasa malu. Mungkin ya sekolah saya ini mencari guru yang memiliki prestasi dan lulusan Universitas yang bonafit sepanjang pengamatan saya. Mereka hanya mencari lulusan universitas yang memiliki "nama" keren. Apalagi yang digembar-gemborkan sekolah saya dari dulu hanyalah kerjasama kemitraan dengan berbagai kampus. Saya mencoba untuk ikut tes CPNS 2018 tapi gagal. Saya ingin menjadi guru honorer di sekolah negeri tapi takdir berkata lain. Saya harus mengikuti suami pindah ke Jawa. 

Saya sendiri juga tidak tau apa yang akan saya kejar. Apa impian saya. Saya terlalu mengikuti aliran air yang mengalir. Meski saya tidak menjadi guru, saya tetap mencoba berbagai usaha seperti marketing tour travel, reseller pakaian, pokoknya banyak lah. 

Kemudian pandemi datang dan memporak porandakan impian banyak orang....

[Takut tambah dewasa
Takut aku kecewa
Takut tak seindah yang kukira
Takut tambah dewasa
Takut aku kecewa
Takut tak sekuat yang kukira]

Pandemi juga berimbas pada keluarga saya. Iya, saya yang nggak punya impian ini akhirnya hanya bisa berdoa semoga keluarga saya diberi kesehatan dan kecukupan rezeki. Udah itu aja. Selebihnya ya saya doakan suami saya juga agar selalu dilancarkan dan diberi keberkahan dalam mencari nafkah bagi keluarga. Saya juga tak tinggal diam, saya berusaha membantu suami saya apalagi sejak awal jauh sebelum menikah saya memang hobi berdagang. Saya mencoba membuka bunga flanel sampai terakhir saya menjual homedress. Saya rasanya pasrah tapi saya tak ingin menyerah. Walau saya tak memiliki mimpi yang sangat berarti tapi saya masih memiliki harapan untuk keluarga saya. Banyak harapan seperti keluarga lain yang berjuang di tengah pandemi ini. 

Iya, saya takut. Saya takut dikecewakan lagi oleh realita yang selalu bercanda. Kemarin saya gencar mempromosikan dagangan saya, hingga saya lelah, rasanya "udahlah nggak usah berharap lagi emang rezekinya segini". Udah. 

[Aku tetap bernafas
Meski sering tercekat
Aku tetap bernafas
Meski aku tak merasa bebas]

Mungkin cerita saya emang nggak ada apa-apanya dengan kisah orang lain, tapi saya bisa tetap bernapas saja sudah alhamdulillah. Kadang saya membandingkan hidup saya dengan orang lain. Kenapa saya tidak bisa seperti mereka, hidup enak dan mewah. Kenapa terkadang hidup tidak adil. Apa yang Allah mau dari saya? Salah saya apa, mungkinkah usaha saya kurang? Apakah saya pernah mendzalimi orang? 

[Maaf jika
Belum seturut yang dipinta
Maaf jika
Seperti tak tahu arah]

Ini seperti ungkapan hati saya saat ini sih. Saya sudah berada di fase "ya udah mau gimana lagi". Sekarang saya berusaha menata diri sendiri, mengisi tangki cinta diri sendiri sebelum mengisi tangki cinta ke keluarga kecil saya terutama anak. Saya hanya ingin memeluk diri sendiri. Semua akan baik-baik saja. 

[Engkau tetap bernafas
Meski sering tercekat
Engkau tetap bernafas
Dan langkahmu 'kan terasa bebas
Dan hatimu 'kan terasa bebas
Dan jiwamu 'kan terasa bebas]

Apabila Allah menghendaki. 

Tak apa merasa cemas.... tak apa merasa terhempas.. tak apa... 

Anggi, 
Jogja, 7 Desember 2021
  • 2 Comments

Mendadak mau nulis tentang pernikahan saya yang ternyata udah berjalan selama 6 tahun. Mau dibilang nggak terasa tapi kok ya terasa banget 🤣 Meski pernikahan kami belum genap 10 tahun tapi bolehlah saya berbagi sedikit cerita pernikahan kami. 


Iya. Halu 🤣 Gegara kuisioner ala ala di IG ini aku jadi ingin melukiskan perjalanan pernikahan kami yang tentu saja warna-warni bagai lagu Balonku, yang kadang cerah kadang kelabu. 

Awal Pertemuan dengan Suami

Kalau mau diceritakan sebenarnya emang "dapetnya" ((barang kaliiii 🤣)) enggak kreatif banget karena kami dijodohkan sama salah seorang kerabat orangtua yang saat itu satu kantor dengan suami. Ya udah, dikenalin lah di rumah. Sebelum itu saya udah cek profil sosial media dan nggak ada apa-apa di sana. "Mau dikenalin sama om om dooong" 🤣 begitu batin saya waktu itu. Eh ternyata emang kami punya rentang usia sampai 8 tahun. Mau dibilang kayak om om tapi suami saya face-nya nggak tua-tua amat. Ya udahlah, anggap aja sama oppa kwkwkk. 

Kenapa saya tulis di insta story nama Hanung dan Zaskia Mecca. Sebenarnya saya bukan obsessed atau menjadikan mereka role model. Hanya saja kebetulan nasib jodoh saya sama seperti Zaskia Mecca yang punya suami beda usia jauh dan sama-sama asli Jogja. Jadi saya suka aja melihat keseruan mereka saat sedang ke Jogja. Nasib jodoh ya, kali aja kayanya bisa nular juga hahaha. 

Alasan Memilih Pasangan Jauh Lebih Tua 

Karena yang mau sama saya cuma dia doang 🤣 Saya emang tipikal cewek egois dan lemah mental. Saya mah mirip Hulk kalau lagi kumat wkwkwk. Sedikit cerita, saya beberapa kali dekat dan pernah punya pacar seumuran tapi wadidaw, ego masih sama-sama sangat tinggi sekali. Endingnya nggak bertahan lama apalagi jauh di mata mudah tergoda dengan lainnya. Intropeksi diri aja, emang saya kata orang tipenya "baperan", walau nggak boleh ya ngatain mental orang kayak gitu. Saya pernah ada rasa cocok dengan seseorang tapi ternyata dia sudah punya pacar dan akhirnya menikah juga hahaha. Ya udah. Saya menerima lamaran suami saya saat itu, karena dilihat dari "kacamata" perasaan saya, dia itu sabar. Udah. 

Enaknya Nikah Sama yang Lebih Tua

Emosi Lebih Stabil

Ini menurut pengalaman saya saja yah. Seperti yang saya sebutkan di atas, saya pernah dekat dengan beberapa lelaki berbagai macam rentang usia mulai dari beda 2 tahun, seumuran bahkan ada yang 6 tahun. Pengendalian emosi memang lebih stabil yang usianya jauh di atas 5 tahun untuk saya. Nggak tau yah, rata-rata yang cuma beda usia dikit aja nggak cocok sama karakter saya yang emang aduhai banget emosinya 🤣 Mungkin karena usia lebih tua udah lebih dewasa jadi lebih bisa mengatur emosi. Ibarat nih saya api, tapi pasangan saya jadi airnya. 

Lebih Memiliki Banyak Pengalaman dan Wawasan Luas

Satu hal yang saya suka dengan pria yang usianya lebih tua adalah karena jauh lebih memiliki pengalaman hidup ditunjang dengan wawasannya yang luas. Mungkin hal ini dikarenakan pergaulan mereka entah di kantor, teman sepermainan, dsb. Saya jadi lebih banyak mendapat pengetahuan baru dari suami saya, apalagi pengalaman kami jauh berbeda. Gimana nggak beda, jaman saya masih remaja piyik, suami saya sudah melalang buana di dunia kerja 🤣😌 

Lebih Visioner

Berkat dari banyaknya pengalaman yang mereka dapat, biasanya mereka yang usianya lebih dewasa dari kita akan lebih visioner. Hidup juga jadi punya target dan pandangan. Kalau dalam bahasa jawa tuh pikiran yang "nuweki" atau tua. 

Nggak Enaknya Nikah Sama yang Lebih Tua

Susah Beradaptasi dengan Hobi dan Pergaulan Pasangan yang Lebih Muda

Sebut saja drama korea... 😌 Walau suami saya mempersilahkan saya menonton drama korea, nggak pernah melarang apapun yang akan saya lakukan, tapi sampai detik ini saya belum berhasil "meracuni" suami saya buat menonton drama korea. Padahal saya sudah bilang kalau drama korea ada yang horror dan action. Bahkan saya udah ngasih liat aktris korea yang cantik-cantik. Kadang tuh saya suka iri sama istri yang punya suami mau ikut nonton drama korea. Kompak banget gitu. Lha suami saya dong, hmm 🤣

Kadang Kala Terlalu Serius Bahkan Seperti Kanebo Kering

Suami saya itu emang modelnya simple. Nggak terlalu ngikutin jokes atau hiburan di media sosial seperti twitter dan TikTok. Ada bagusnya sih, jadi mengurangi intensitas bermain gadget yang nggak penting ya. Suami saya juga nggak suka main game. 

Saat kami baru beradaptasi menjalani rumah tangga, saya pernah menganggap suami saya itu nggak asyik karena nggak mengikuti  perkembangan jokes era sekarang 🤣 Tapi perlahan saya mulai bisa menerima kalau suami saya ya emang gitu. Positifnya sih jadi nggak terjebak Fomo, ya udah santai aja gitu. Masih ada obrolan lain kan selain membahas yang viral atau hal yang nggak penting. 

Pikiran Ikut Menjadi Lebih Dewasa

Collagen mana collagen... Saya butuh collagen 🤣 Saya menikah di usia pertengahan waktu itu, mendekati usia 25. Dibilang dewasa ya iya, tapi kadang masih ada jiwa kekanakan. Akhirnya menikah dengan suami, saya jadi mengikuti alur pikiran suami saya. Ditambah lika-liku perjalanan hidup rumah tangga yang bagai roller coaster, saya jadi banyak belajar menghadapi situasi sulit. Suami lebih menjadi penyeimbang pemecah masalah yang solutif. 

Tentu saja tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya ya karena jelas bahwa setiap individu pasti berbeda. Ada yang merasa cocok dengan pasangan seumuran, istri yang lebih tua, atau suami yang lebih tua. Karakter bisa terbentuk dari banyaknya pengalaman hidup sehingga pada akhirnya saling mendewasakan, atau bisa jadi sebaliknya. Intinya sih mau menikah dengan usia berapapun yang penting adalah Komunikasi dan siap mental. Awal menikah jujur saya sebagai istri ribetnya kayak bocah pacaran karena main kode-kodean sandi morse. Perempuan pasti ngerti 🤣 Akhirnya makin lama saya belajar mengungkapan isi hati saya ke suami. Kadang kala yah sebagai perempuan yang super ribet, maunya cuma didengarkan keluh kesahnya. Alhamdulillah suami bisa ngerti, ya udah dia diem aja kalau saya mulai cerita, yang penting saya bisa plong mengeluarkan uneg-uneg saya.

Begitulah sedikit cerita saya menikah dengan usia yang lebih tua. Bagaimana dengan kalian besties. Adakah merasakan hal yang sama? 

Anggi,
Jogja, 23 November 2021

  • 2 Comments



Beberapa waktu lalu aku melihat postingan dari akun Magdalene tentang "Menjadi Perempuan Lajang di Tengah Teman-Teman yang Sudah Menikah". Dikatakan dalam postingan tersebut bahwa masih banyak orang bahkan teman terdekat sendiri yang menganggap perempuan lajang sebagai orang kesepian dan mereka yang sudah menikah sibuk menjodohkan teman yang lajang tersebut. Banyak yang berkomentar dalam postingan itu bahwa mereka memiliki pengalaman serupa. Lalu kemudian aku berkaca pada circle pertemananku sendiri.


Sedikit curhat nih ya. Rasanya semakin usia bertambah teman di dunia nyata terasa amat sedikit. Semakin lama semakin bisa mengelompokkan spesies pertemanan (lol). Maksudnya tuh kayak udah tau perbedaan teman alumni, teman kuliah, teman biasa, teman dekat, teman dekat banget, teman rasa saudara, sahabat kenthel, cuma tetangga, cuma teman bisnis, cuma teman pas ada maunya 😂 Apalagi nih kalau lagi terpuruk, bisa dilihat siapa aja yang ada di samping kita. Apalagi sejak menikah, rasanya malessss banget deket sama orang baru. Nih ya, anak masuk TK aja aku belum ada kenal wali murid sama sekali karena sekolahnya masih daring. Enngg tapi juga nggak kepingin kenal banget gitu 😂 Antara aku capek kalau ditanya 'asliku' mana, capek adaptasi dan aku emang introvert. Kok ya mending aku sibuk sama duniaku sendiri. 


Meski begitu aku nggak pernah sama sekali 'nggojloki' sahabatku yang masih lajang buat segera menikah. Lha ngapain kok ngurus banget hahah. Mending nih ya cari topik lain buat dibahas. Lagian menikah itu nggak kayak negeri dongeng. Rasanya biasa aja gitu, malah bebannya lebih banyak. Ngakuuuuuu hayo ??? 😂


Cerita dikit ya tentang sahabat-sahabatku. Aku punya beberapa sahabat, sahabat dari masa remaja dan masa kuliah. Pertama, sahabat masa remaja kalau dipikir-pikir cuma satu doang, Anita namanya. Beliau ini masya Allah.... recehnya ampun deh. Aku kenal beliau pun dari keisengan beliau menelponku dari wartel jaman SMP, nge-prank nelepon kalau gebetanku (saat itu) jatuh dari motor. Kan kesel yah 😂 Akhirnya dari situ Anita suka datang ke kelasku. Pernah satu kelas waktu kelas 3 SMP dan 3 SMA, jurusannya juga sama IPS. Ke mana-mana sering bareng. Pokoknya kami punya 'kartu As' masing-masing. Persahabatan kami berlanjut sampai kami menikah dan punya anak. Beliau juga yang membantuku saat ASIku seret, bahkan yang paling repot nyiapin traktiran dan kado buatku waktu aku pindah ke Jogja.


Kedua adalah sahabat kuliah. Ceritanya nih, jaman KKPPL (sebut aja praktek ngajar di lapangan karena aku jurusan keguruan) aku nggak dapat kelompok sama sekali. Ugh rasanya tuh kampret banget hahaha. Sebenarnya aku mau satu kelompok sama teman dekatku, sebut aja si M, tapi nggak jadi karena nunggu satu teman lain, si C, yang pingin bareng bertiga. Eh ternyata si C ini pengkhianat sekali. Dia nggak tau deh ngacir ke mana. Akhirnya aku dan si M memutuskan nggak satu kelompok karena nggak mungkin dong berdua aja sedangkan yang dibutuhkan adalah 5 orang. Akhirnya aku pasrah biar pihak kampus yang menentukan. Aku masuk di kelompok kelas reguler. Kelas reguler ini kelas A yang masuknya jalur SNMPTN sedangkan aku kelas B yang masuknya jalur mandiri.


Persahabatan kami dimulai dari sini. Awalnya kami nggak saling kenal karena jadwal kelas A dan B berbeda. Ketemunya kalau lagi ada mata kuliah yang umum aja, jarang say Hi gitu lah. Awal kenal rasanya kagok banget tapi karena anak kelas A ini suka receh jadi akhirnya aku terbawa suasana. Sampai akhirnya kami selesai praktek dan lulus kuliah.


Lama berpisah karena aku pulang kampung ke rumah orangtua, dan mereka melanjutkan kehidupannya juga. Beberapa dari kami sudah menikah, tinggal satu orang yang belum bahkan masih melajang sampai saat ini. Detailnya kenapa, tidak akan aku bahas di sini ya hehe. 


Jujur, aku sendiri nggak pernah sama sekali ngeledekin sahabatku ini macam-macam. Kayak ya udah biar aja masih lajang. Malah aku tetap mendorongnya untuk puas-puasin sendirian, karena kalau menikah bebannya ampun dah kalau masih waras udah syukur 😂😂😂😂 Eh bukannya aku nggak bersyukur loh ya, tapi aku cuma menyampaikan realita 😀😀😀


Kalau dihitung sih usia persahabatanku sudah mencapai 10 tahun bahkan lebih. Kalau menurut pakar itu sudah sangat istimewa 💓 So, gimana sih cara merawat persahabatan apalagi sudah melewati berbagai hal tentu saja bisa berbeda fase kehidupan. Ini beberapa tips dari aku ya.


1. Tidak Perlu Tahu Sebenarnya

Sahabat baik nggak selalu kepo dan terlalu mencampuri urusan sahabat. Apalagi sudah berusia dewasa. Jujur, aku sendiri nggak terlalu banyak bertanya apalagi mengintimidasi sahabatku sendiri. Aku menyadari aku sendiri punya masa lalu, sahabatku pun begitu. Tapi mari berkaca apa harus selalu tau cerita masa lalu sahabat, siapa mantan pacarnya, bagaimana caranya menjalani hubungan. Aku pribadi memilih untuk menanggapi apabila sahabatku sendiri yang bercerita atau meminta pendapat.


2. Memahami Ritme Kehidupan

Mungkin yah kalau waktu remaja maunya ke mana-mana selalu bersama. Naik motor bareng, nongkrong bareng. Cerita itu sudah berbeda ketika dewasa apalagi setelah lulus sekolah atau kuliah. Ada yang memilih bekerja, ada yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Hal kecil seperti sekedar meet up sudah jarang sekali dilakukan. Tapi apakah melunturkan persahabatan? Tentu nggak ya. Era digital sekarang masih ada chatt whatsapp, untuk sekedar bertanya kabar sudah cukup. Toh mereka juga punya masalah masing-masing dalam pekerjaan ataupun rumah tangga.


3. Menghargai Keputusan Sahabat

Terkadang sesama sahabat saling curhat berujung pada mencari solusi. Ya udah kasih aja solusi sepantasnya menjadi sahabat. Kalau sahabat mau nerima alhamdulillah, enggak juga nggak apa-apa. Kadang orang bertanya itu bukan untuk mendapat solusi tapi sekedar meyakinkan diri sendiri bahwa keputusan yang dipilih yang terbaik.


4. Tetap Saling Mengandalkan dan Mendukung

Sahabat apalagi sudah terjalin lebih dari 10 tahun sudah seperti satu jiwa. Tetaplah saling mengandalkan. Hadir apabila diminta pertolongan dan tetap saling mendukung apapun yang dilakukan sahabat. Tetap di sisinya dalam hal terpuruk sekalipun.


5. Berbicara Sesuai Adabnya

Belajar cari topik yang sesuai dengan hobi atau favorit bersama. Janganlah mengintimidasi sahabat yang berbeda pandangan dengan kita. Ibarat nih ya satu orang dicubit, yang lain juga ikut sakit. Misal nih ada sahabat yang memilih untuk tidak menikah dulu atau menunda momongan dulu karena berbagai pertimbangan. Lah, masak iya kita sibuk mengomentari pilihan hidup mereka? Lah kalau hobinya ngejelekin, nggak nyambung, ngomongin yang bertolak belakang sama prinsip hidup orang yakin itu sahabat?? 😂😂😂


Yap segitu dulu tips merawat persahabatan dari aku. Kalau kamu gimana nih?


Anggi,

Jogja, 12 November 2021


  • 0 Comments
Postingan Lama Beranda

Follow Me

  • instagram
  • Blog
  • Twitter
  • Tiktok

Community

1minggu1cerita

recent posts

Labels

1minggu1cerita Beauty Beauty Review Blogger Perempuan BTS Curhat Emak Cushion Drama Korea Isu Terkini Kpop Life Story Lifestyle Marriage Parenting Product Review Review Buku Review Drama

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Archive

  • ▼  2023 (10)
    • ▼  Agustus 2023 (5)
      • Review Daily Skin Perfect Cushion by Kojic Plankton
      • King The Land : Lebih dari Sekedar Drama CEO
      • Selamatkan Hutan, Warisan Alam Generasi Penerus
      • Menikah Titik Dua : Sisi Lain Pernikahan
      • Rediscovering Hobbies: Reigniting the Passion for ...
    • ►  Juli 2023 (5)
  • ►  2022 (9)
    • ►  Maret 2022 (2)
    • ►  Februari 2022 (4)
    • ►  Januari 2022 (3)
  • ►  2021 (18)
    • ►  Desember 2021 (6)
    • ►  November 2021 (6)
    • ►  Juli 2021 (1)
    • ►  Juni 2021 (4)
    • ►  Mei 2021 (1)

Popular

  • Review Daily Skin Perfect Cushion by Kojic Plankton
    Review Daily Skin Perfect Cushion by Kojic Plankton
    Pernah denger brand Kojic Plankton nggak? Itu lho brand yang terkenal dengan sabun mencerahkan berwarna biru. Nah, brand lokal yang mengusun...
  • Fenomena BTS dan Cerita Fangirling
    Fenomena BTS dan Cerita Fangirling
      sumber : hot.detik.com Suatu hari di hari yang sangat tenang, tiba-tiba putri semata wayangku berteriak, "Ma, ayo beli McD BTS!"...
  • King The Land : Lebih dari Sekedar Drama CEO
    King The Land : Lebih dari Sekedar Drama CEO
      by hancinema Anyeong... Siapa yang masih nggak bisa move on dari drama ini? Drama yang udah ditunggu Kpopers generasi kedua sejak kolabora...

About Me

 

Stay at home mom. A learner.

Pengikut

instagram

Laporkan Penyalahgunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top