Review Anggi

Halaman

  • Beranda
  • About Me
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sitemap
  • Terms and Conditions
  • Home
Hobi kalian sekarang apa? Kalaupun ada penobatan 'duta rebahan' mungkin saya pemenangnya kwkwk. Kalau dipikir-pikir yah, sejak jadi ibu rumah tangga yang di rumah aja, saya sampai melupakan hobi saya sendiri. Saya sampai nggak tau hobi saya sebenarnya apa kwkwk atau bisa jadi saya punya hobi lama yang terpendam. Banyak kegiatan dilakukan untuk keluarga saja, khususnya suami dan anak. Namun, sejak anak menginjak usia 6 tahun dan sudah bersekolah di sekolah dasar, rasanya saya seperti menemukan diri saya kembali. Saya kembali mengulik kegiatan yang saya senangi dulu sebelum saya menikah bahkan jauh sebelum memiliki anak.

Apa itu Hobi

“Hobi” merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris “hobby”. Menurut KBBI, kata “hobi” memiliki arti kegemaran atau kesenangan istimewa yang dilakukan pada waktu senggang, bukan sebagai pekerjaan utama. Hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran dan memperbaiki suasana hati seseorang. Bagi orang-orang disibukkan oleh pekerjaan, waktu luang untuk melakukan hobi mungkin terbatas. Oleh karena itu, mereka biasanya melakukan hobi saat akhir pekan atau setelah selesai bekerja. Bagi banyak orang, ini merupakan upaya untuk menjaga work-life balance atau kemampuan seseorang untuk membagi waktu kerja dan pribadi dengan seimbang.

Manfaat Hobi

Memiliki hobi, selain mengurangi kadar stress karena jenuh dengan rutinitas, juga sebagai wujud mencintai diri sendiri. Hobi juga dapat meningkatkan rasa semangat dan menstimulasi energi positif. Melakukan hobi juga dapat menyegarkan pikiran dan menambah inspirasi.

Aku dan Hobiku

Sebelum rebahan adalah hobi saya ketika jadi ibu rumah tangga, saya punya beberapa kegiatan yang saya tekuni dulu ketika masih free & single, hahay. 

Bertukar Kartu Pos

Saya dulu memiliki hobi bertukar kartu pos, atau bahasa asingnya 'postcard swap' melalui media sosial instagram dan melalui website 'Postcrossing'. Saya nggak melanjutkan hobi saya ini karena saat itu masih susah ditemukan kartu pos yang cantik dan semakin lama tarif perangko semakin 
  • 0 Comments


Hai, selamat 2022 yah. Barangkali tahun 2021 lalu dilewati dengan lika-likunya. Diri kita sudah terbiasa berkata "nggak apa-apa" dan "ya udah". Walau berat dilewati tapi ini jalannya. Tetap senyum ya ☺☺☺

Bagi saya, dua tahun adanya berita pandemi mengajarkan banyak hal. Pentingnya kesehatan, kebersihan, kebersamaan dengan keluarga atau orang tersayang. Banyak yang kehilangan pekerjaan, sangat terasa bagaimana pentingnya cerdas dalam mengelola keuangan. Pandemi juga memaksa banyak orang untuk beraktivitas di dalam rumah sehingga pakaian kita seperti tak berarti. Tidak ada acara undangan pernikahan, tidak berangkat ke kantor, tidak ada acara jalan-jalan. Terus gimana mau show off 🙈🙈

Saya sendiri sebelum pandemi sudah merasakan kewalahan dengan barang yang saya miliki. Saya mengikuti suami pindah sejak akhir 2019, di mana pada akhirnya banyak barang terutama pakaian yang saya berikan kepada orang yang membutuhkan. Lalu saya berpegang teguh pada prinsip tidak akan membeli barang lagi kecuali saat membutuhkan. Eh ternyata satu keadaan juga yang memaksa. 

Mengenal Hidup Minimalis

sumber unsplash

Saya mengetahui tentang minimalis dari akun Lyfe with Less. Liyfe with Less merupakan komunitas yang menjadi support grup dan inspirator bagi orang-orang yang menjalaninya. Komunitas ini digawangi oleh Cynthia Suci Lestari, komunitas ini telah berjalan sejak Desember 2018. Saya juga membaca buku Fumio Sasaki, Goodbye Things, walau tidak ekstrim seperti beliau.

Ada beberapa tipologi minimalis yang saya baca.

• Voluntary Simplicity, melakukan minimalis dengan sukarela. Tipe pertama ini menganggap gaya hidup minimalis sebagai sebuah pencerahan dalam hidup. Tipe ini biasanya menganjurkan pendekatan minimalis bersama-sama dengan tanggung jawab dalam berkonsumsi, cara hidup fungsionalis, disiplin terhadap pengendalian diri terutama berkenaan dengan praktik konsumsi.

• Reduced Consumption, memperlihatkan bahwa menjadi minimalis ini disesuaikan dengan kebutuhan yang urgensi. Keterbatasan yang dihadapi pelaku minimalis ini akan memicu kreativitas tertentu yang membuat pelaku reduced consumption memiliki ide-ide kreatif untuk mengganti barang-barang tertentu. Contohnya: daripada mahal-mahal membeli keranjang baju, pengguna bisa menggantinya dengan kardus yang telah dimodifikasi mirip keranjang baru.

• Anti-Consumption, seorang individu sudah dalam tahapan idealis dalam menjalani konsep minimalis, seperti kepedulian lingkungan dan sustainability yang akan mengarah pada peningkatan kualitas hidup dan kepuasaan berkontribusi pada masalah sosial dan lingkungan.

• Inconspicuous minimalis atau minimalis yang tidak kentara biasanya terbentuk dari keluarga atau kelas ekonomi atas dalam tatanan masyarakat. Aspek minimalis yang dipilih tidak hanya masalah keberlanjutan lingkungan atau kesejahteraan masyarakat, melainkan juga mempertimbangan konsep estetik. Atau contoh lainnya menggunakan barang-barang body care merk tertentu yang eco friendly dengan kemasan polos namun ternyata harganya cukup pricey. Penganut minimalis kategori ini cenderung merasakan kenikmatan hidup yang lebih besar dengan menggunakan atau mengkonsumsi barang kualitas terbaik di kelasnya tanpa terkesan glamor.

Saya sendiri masuk dalam kategori Reduced Consumption, alias hemat sekalian ngirit, bun kwkwkk. . . Intinya belajar minimalis bukan dihitung dari banyak atau sedikitnya barang, tapi bagaimana kita cerdas mengelola barang yang kita miliki dengan sadar dan merasa cukup. Tidak terjebak FOMO atau mengikuti trend khusus dan benar-benar membeli saat butuh.

Pakai Sampai Habis, Salah Satu Usaha dalam Menerapkan Hidup Minimalis

Skincare Empties : Pinterest

Di antara kita pasti sudah sering melakukan belejetin isi odol sampai tetes terakhir, mengisi sabun atau shampoo dengan air, colekin isian skincare sampai habis. HAI ANAK KOS 🤣🤣 Ternyata kegiatan itu adalah bagian kecil dari hidup minimalis. Ya ampun keren banget anak kos, kwkwkk.

Pakai sampai habis juga menjadi bagian dari komunitas Lyfe with Less. Bisa dilihat di hashtag #pakaisampaihabis akun mereka, kamu akan menemukan teman seperjuangan menggunting kemasan skincare lalu mengoretinya sampai habis 🙈

Pakai sampai habis juga mendorong kita untuk berhenti melalukan impulsive buying apalagi terhadap skincare yang kiranya setiap bulan banyak brand menelurkan produk baru. Saya sendiri sebagai seorang skincare reviewer juga pernah melakukan impulsive buying. Ujungnya di buang karena expired. Merasa ribet dan stress juga melihat skincare bertumpuk di meja rias. Kulit saya tipe berminyak juga tidak bisa menggunakan layering, malah menjadi semakin berminyak. Sebagai beauty reviewer baru, tantangannya memang harus banyak membaca tentang beauty trend, tapi tidak perlu mengikutinya kalau tidak membutuhkan produk tersebut.

Intinya prinsip hidup minimalis, menerapkan konsep yang berfokus dengan hal yang penting saja dalam hidup seseorang. Dengan menerapkan prinsip hidup ini, ternyata bisa membantu kita dalam memfokuskan diri untuk menemukan passion, bahkan meraih mimpi.

Hidup minimalis bukan untuk berlomba tentang sedikit barang, tapi merasa cukup dengan yang dimiliki. Rasa cukup ini kelak akan menuntun kita pada sikap Qana’ah dalam Islam.


Sudahkah merasa cukup? 

Anggi, Januari 2022


Sumber :

Lyfe with Less


  • 0 Comments
Postingan Lama Beranda

Follow Me

  • instagram
  • Blog
  • Twitter
  • Tiktok

Community

1minggu1cerita

recent posts

Labels

1minggu1cerita Beauty Beauty Review Blogger Perempuan BTS Curhat Emak Cushion Drama Korea Isu Terkini Kpop Life Story Lifestyle Marriage Parenting Product Review Review Buku Review Drama

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Archive

  • ▼  2023 (10)
    • ▼  Agustus 2023 (5)
      • Review Daily Skin Perfect Cushion by Kojic Plankton
      • King The Land : Lebih dari Sekedar Drama CEO
      • Selamatkan Hutan, Warisan Alam Generasi Penerus
      • Menikah Titik Dua : Sisi Lain Pernikahan
      • Rediscovering Hobbies: Reigniting the Passion for ...
    • ►  Juli 2023 (5)
  • ►  2022 (9)
    • ►  Maret 2022 (2)
    • ►  Februari 2022 (4)
    • ►  Januari 2022 (3)
  • ►  2021 (18)
    • ►  Desember 2021 (6)
    • ►  November 2021 (6)
    • ►  Juli 2021 (1)
    • ►  Juni 2021 (4)
    • ►  Mei 2021 (1)

Popular

  • Review Daily Skin Perfect Cushion by Kojic Plankton
    Review Daily Skin Perfect Cushion by Kojic Plankton
    Pernah denger brand Kojic Plankton nggak? Itu lho brand yang terkenal dengan sabun mencerahkan berwarna biru. Nah, brand lokal yang mengusun...
  • Fenomena BTS dan Cerita Fangirling
    Fenomena BTS dan Cerita Fangirling
      sumber : hot.detik.com Suatu hari di hari yang sangat tenang, tiba-tiba putri semata wayangku berteriak, "Ma, ayo beli McD BTS!"...
  • NPURE Centella Asiatica (CICA) Day Cream & Night Cream, Kulit Sehat Alami
    NPURE Centella Asiatica (CICA) Day Cream & Night Cream, Kulit Sehat Alami
    Sekarang banyak produk lokal yang nggak kalah keren dari produk import yah besties, salah satunya adalah NPURE yang sudah berdiri sejak 2017...

About Me

 

Stay at home mom. A learner.

Pengikut

instagram

Laporkan Penyalahgunaan

Diberdayakan oleh Blogger.

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top